Sulawesi dikenal sebagai rumah bagi berbagai satwa endemik yang tak ditemukan di belahan dunia mana pun. Salah satu hewan yang paling unik sekaligus terancam punah dari wilayah ini adalah Sulawesi Bear Cuscus (Ailurops ursinus) — marsupial pemalu yang mendiami hutan-hutan tropis di pulau tersebut.
Ciri Khas dan Perilaku
Sulawesi Bear Cuscus memiliki penampilan menyerupai kombinasi antara koala dan monyet, dengan bulu tebal keabu-abuan hingga hitam kecoklatan. Hewan ini aktif pada siang hari (diurnal) dan lebih banyak beraktivitas di atas pohon (arboreal). Makanannya terdiri dari daun-daunan muda, bunga, dan pucuk pohon.
Berbeda dengan mamalia lain di Indonesia, cuscus termasuk kelompok marsupialia — sekelompok hewan berkantung yang lebih banyak ditemukan di Australia dan Papua. Keberadaan hewan berkantung di Sulawesi merupakan keunikan biogeografis yang sangat langka dan menarik secara ilmiah.
Status Konservasi
Saat ini, Sulawesi Bear Cuscus dikategorikan sebagai “Rentan” (Vulnerable) oleh IUCN. Habitatnya semakin menyempit akibat pembalakan liar, alih fungsi hutan, serta aktivitas pertambangan. Studi terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 99% wilayah yang dulunya dihuni spesies ini kini tidak lagi layak untuk menjadi habitat.
Selain ancaman lingkungan, hewan ini juga diburu secara ilegal untuk dijadikan peliharaan atau dikonsumsi, meskipun telah dilindungi oleh hukum di Indonesia. Sayangnya, penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar masih sering lemah di lapangan.
Pentingnya Perlindungan
Keberadaan Sulawesi Bear Cuscus sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Sebagai pemakan daun dan perambat pohon, mereka membantu proses regenerasi hutan melalui penyebaran benih dan menjaga struktur vegetasi.
Upaya konservasi harus melibatkan berbagai pihak—mulai dari masyarakat lokal, pemerintah, hingga lembaga internasional. Edukasi, patroli hutan, serta pelestarian habitat alami merupakan langkah krusial untuk menyelamatkan spesies ini dari ancaman kepunahan.
Sulawesi Bear Cuscus bukan sekadar hewan unik, tetapi simbol pentingnya keanekaragaman hayati Indonesia. Kehilangannya akan menjadi kerugian besar, tidak hanya bagi dunia ilmu pengetahuan, tetapi juga bagi warisan alam bangsa.
Leave a Reply